LUMAJANG.KLIKSURABAYA.CO.ID – Tidak banyak warga mengenal nama mereka. Namun setiap bulan, merekalah yang memastikan balita tumbuh sehat, ibu hamil mendapat pendampingan, remaja memperoleh edukasi kesehatan, hingga para lansia tetap terpantau kesehatannya. Mereka adalah kader Posyandu, relawan yang menjadi denyut pelayanan kesehatan di Desa Wonorejo. Karena itu, Desa Wonorejo memilih untuk merawat orang-orang yang selama ini merawat kesehatan warganya.
Komitmen tersebut kembali diteguhkan dalam Pertemuan Paguyuban Kader Posyandu 6 Standar Pelayanan Minimal (SPM) se-Desa Wonorejo yang digelar di kediaman Rubbainah, Bendahara Posyandu 6 SPM Tunas Harapan Bangsa, Sabtu (25/7/2026). Berlangsung dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan, pertemuan ini menjadi ruang bagi para kader untuk saling menguatkan, berbagi pengalaman, sekaligus menyusun langkah agar pelayanan Posyandu terus berkembang sesuai kebutuhan masyarakat.
Kegiatan dihadiri Pembina Posyandu Desa Wonorejo Rossy Ayu Margareta, Bidan Desa Wonorejo Inna Ari Mustoifah, Perawat Desa Wonorejo Reszeta Berliana Niltialoka, serta seluruh kader Posyandu 6 SPM se-Desa Wonorejo. Kehadiran pemerintah desa, tenaga kesehatan, dan kader mencerminkan kolaborasi yang terus dijaga demi menghadirkan pelayanan kesehatan yang semakin berkualitas.
Peran kader Posyandu kini semakin strategis seiring transformasi layanan kesehatan primer yang dijalankan pemerintah. Kementerian Kesehatan menempatkan kader sebagai ujung tombak pelayanan promotif dan preventif di tingkat masyarakat, sekaligus memperkuat Posyandu agar mampu melayani seluruh siklus kehidupan, mulai dari ibu hamil, bayi dan balita, anak usia sekolah, remaja, usia produktif, hingga lanjut usia. Dengan cakupan pelayanan yang semakin luas, kapasitas, kekompakan, dan keberlanjutan kader menjadi faktor penting dalam menjaga mutu layanan kesehatan di desa.
Dalam forum tersebut, para kader mengevaluasi pelaksanaan Posyandu di masing-masing wilayah. Berbagai hal dibahas secara terbuka, mulai dari pendampingan ibu hamil, pemantauan tumbuh kembang bayi dan balita, pelayanan remaja dan lansia, penguatan administrasi Posyandu, hingga berbagai inovasi untuk meningkatkan jangkauan serta mutu pelayanan kesehatan.
Bagi Desa Wonorejo, pelayanan Posyandu tidak hanya bergantung pada tersedianya sarana, alat kesehatan, maupun jadwal pelayanan. Yang paling menentukan adalah semangat para kader yang dengan sukarela meluangkan waktu di tengah kesibukan rumah tangga untuk hadir mendampingi masyarakat. Karena itu, menjaga kekompakan kader sama pentingnya dengan menjaga kualitas pelayanan itu sendiri.
Pembina Posyandu Desa Wonorejo, Rossy Ayu Margareta, mengapresiasi dedikasi seluruh kader yang selama ini menjadi ujung tombak pelayanan kesehatan berbasis masyarakat. Menurutnya, keberhasilan berbagai program kesehatan desa tidak dapat dilepaskan dari pengabdian para kader yang bekerja secara sukarela dan penuh kepedulian.
“Kader Posyandu adalah penggerak yang menghubungkan masyarakat dengan berbagai layanan kesehatan. Semangat pengabdian mereka menjadi kekuatan penting dalam membangun masyarakat yang lebih sehat sekaligus mendukung percepatan penurunan stunting,” ujarnya.
Penguatan kapasitas kader juga sejalan dengan arah Transformasi Layanan Primer yang menempatkan Posyandu sebagai garda terdepan pelayanan kesehatan masyarakat. Dalam skema tersebut, kader tidak hanya membantu pelaksanaan kegiatan Posyandu, tetapi juga menjadi mitra tenaga kesehatan dalam memberikan edukasi, melakukan pemantauan kondisi kesehatan warga, serta mendorong masyarakat memanfaatkan layanan kesehatan sejak dini.
Sementara itu, Bidan Desa Wonorejo, Inna Ari Mustoifah A.Md.Keb., mengingatkan pentingnya menjaga mutu pelayanan melalui pencatatan yang tertib, edukasi kesehatan yang berkelanjutan, serta deteksi dini terhadap berbagai persoalan kesehatan. Hal senada disampaikan Perawat Desa Wonorejo, Reszeta Berliana Niltialoka, yang mengajak seluruh kader untuk terus menghadirkan pelayanan yang ramah, humanis, dan responsif terhadap kebutuhan warga.
Di balik setiap kegiatan Posyandu yang berlangsung di tengah masyarakat, ada puluhan kader yang bekerja tanpa pamrih. Mereka mendampingi ibu hamil, memastikan balita dipantau pertumbuhannya, mengedukasi remaja, hingga memberi perhatian kepada para lansia. Pengabdian itu sering kali tidak terlihat, tetapi manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat setiap hari.
Di Desa Wonorejo, semangat gotong royong para kader menjadi modal sosial yang terus dirawat. Dengan koordinasi yang semakin baik, pelayanan Posyandu diharapkan tidak hanya berjalan rutin setiap bulan, tetapi juga semakin mampu menjawab berbagai tantangan kesehatan masyarakat, mulai dari pencegahan stunting, peningkatan kesehatan ibu dan anak, pengendalian penyakit tidak menular, hingga penguatan perilaku hidup bersih dan sehat.
Boleh jadi masyarakat hanya melihat pelayanan Posyandu yang berlangsung setiap bulan. Namun di balik meja penimbangan, buku pencatatan, dan penyuluhan kesehatan, ada para kader yang menjaga agar pelayanan itu tidak pernah berhenti. Bagi Desa Wonorejo, menjaga kesehatan masyarakat dimulai dengan menjaga orang-orang yang selama ini dengan tulus merawat kesehatan desa.







