Lumajang.kliksurabaya.co.id – Selama bertahun-tahun, hasil panen meninggalkan Desa Rowokangkung dalam bentuk yang hampir sama seperti saat dipetik. Jagung dipasarkan sebagai hasil panen, gurami dijual dalam kondisi segar, sementara kangkung langsung menuju pasar tanpa banyak melalui proses pengolahan.
Komoditas-komoditas tersebut telah lama menjadi sumber penghidupan masyarakat. Namun, sebagian besar nilai tambahnya justru tercipta setelah keluar dari desa. Padahal, di balik setiap hasil panen itu tersimpan peluang untuk menghadirkan produk baru, membuka usaha, sekaligus memperkuat perekonomian masyarakat apabila mampu diolah lebih lanjut.
Berangkat dari kondisi tersebut, Tim Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer Universitas Jember (BEM FASILKOM UNEJ) menghadirkan Program JAGATARA (Jaga Pangan Nusantara) Desa Agraris Berlapis Rowokangkung. Program yang mulai dilaksanakan pada Juli 2026 itu mengusung pendekatan circular economy dan zero waste untuk membangun ekosistem hilirisasi berbasis potensi lokal.
Program tersebut merupakan bagian dari PPK Ormawa 2026 yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Dalam pelaksanaannya, mahasiswa berkolaborasi dengan Pemerintah Desa Rowokangkung, BUMDes Lestari, kelompok masyarakat, dan pelaku UMKM untuk membangun model pemberdayaan yang diharapkan mampu terus berjalan setelah masa pendampingan berakhir.
Mengubah Potensi Menjadi Nilai Tambah
Desa Rowokangkung dipilih karena memiliki potensi besar di sektor pertanian dan perikanan. Berdasarkan data Pemerintah Desa Rowokangkung, jagung menjadi salah satu komoditas utama yang diproduksi masyarakat setiap tahun. Sementara itu, berdasarkan data internal BUMDes Lestari, unit budidaya gurami yang dikelola terdiri atas 15 kolam dengan kapasitas sekitar 350 ekor ikan per kolam. Selain itu, kangkung juga menjadi salah satu komoditas yang banyak dibudidayakan masyarakat dan memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi berbagai produk olahan.
Potensi tersebut kemudian menjadi dasar pengembangan hilirisasi melalui Program JAGATARA. Tidak hanya meningkatkan nilai jual komoditas, program ini juga membangun keterkaitan antara proses produksi, pengolahan, pemasaran, hingga pemanfaatan limbah agar memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat.
Ketua Pelaksana PPK Ormawa BEM FASILKOM UNEJ, Dimas Kurniawan, mengatakan JAGATARA dirancang sebagai program yang tidak berhenti pada kegiatan pengabdian, tetapi mendorong lahirnya ekosistem ekonomi desa yang lebih berkelanjutan.
“Harapan kami, Program JAGATARA dapat memberikan dampak nyata bagi masyarakat Desa Rowokangkung. Melalui pengembangan produk berbasis gurami, jagung, dan kangkung serta pemanfaatan teknologi, kami ingin membantu meningkatkan nilai jual dan nilai guna komoditas lokal sehingga mampu memberikan manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat,” ujarnya.
Ketika Hasil Panen Memiliki Nilai Baru
Pendampingan yang dilakukan tidak hanya berfokus pada proses produksi, tetapi juga pada penciptaan nilai tambah.
Berbagai inovasi dikembangkan dari komoditas unggulan desa, di antaranya abon dan bakso gurami, susu jagung, biofoam berbahan limbah jagung sebagai alternatif kemasan ramah lingkungan, mi kangkung, pakan ikan berbahan kangkung, serta pemanfaatan limbah budidaya gurami menjadi pupuk organik. Program ini juga memperkenalkan sistem akuaponik sebagai bagian dari pendekatan ekonomi sirkular yang menghubungkan sektor pertanian dan perikanan.
Bagi Ketua BUMDes Lestari Desa Rowokangkung, Angger Lastiano, pengembangan produk olahan menjadi peluang untuk meningkatkan manfaat ekonomi dari potensi yang selama ini dimiliki desa.
Menurutnya, kolaborasi dengan perguruan tinggi membuka ruang bagi masyarakat untuk mempelajari pengolahan komoditas lokal menjadi produk bernilai tambah sekaligus memperkuat peran BUMDes dalam mendukung pengembangan usaha masyarakat agar manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan.
Teknologi Membuka Jalan ke Pasar yang Lebih Luas
Transformasi yang dibangun tidak berhenti pada inovasi produk.
Tim PPK Ormawa turut mengembangkan website yang terintegrasi dengan marketplace dan AI chatbot sebagai media promosi, pemasaran, sekaligus penyedia informasi mengenai produk unggulan Desa Rowokangkung.
Masyarakat juga memperoleh pelatihan mengenai pengolahan produk, pengemasan, penguatan merek, pemasaran digital, hingga manajemen usaha. Pendampingan tersebut diharapkan mampu melahirkan kelompok-kelompok usaha yang dapat mengembangkan produk secara mandiri sekaligus memperluas jangkauan pemasaran melalui teknologi digital.
Kolaborasi Menjadi Fondasi Kemandirian
Kepala Desa Rowokangkung, Totok Hariyanto, menilai Program JAGATARA selaras dengan kebutuhan desa dalam meningkatkan nilai tambah komoditas lokal.
“Program ini sangat baik karena mampu melihat potensi yang dimiliki Desa Rowokangkung dan mengembangkannya menjadi sesuatu yang lebih bernilai. Kami dari pemerintah desa mendukung penuh pelaksanaannya dan berkomitmen untuk terus mendampingi agar program ini dapat berjalan dengan baik serta memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat,” katanya.
Baginya, kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, BUMDes, UMKM, dan masyarakat merupakan modal penting untuk membangun desa yang lebih mandiri dan berdaya saing.
Pada akhirnya, pembangunan desa tidak selalu dimulai dari menghadirkan sesuatu yang baru. Sering kali, perubahan justru lahir ketika masyarakat mampu melihat kembali potensi yang telah lama mereka miliki dengan cara yang berbeda.
Di Rowokangkung, perubahan itu dimulai dari tiga komoditas yang tumbuh setiap hari seperti, gurami, jagung, dan kangkung. Ketika ketiganya tidak lagi hanya dipasarkan sebagai bahan mentah, tetapi mulai diolah menjadi produk bernilai tambah, yang tumbuh bukan sekadar peluang usaha baru. Lebih dari itu, tumbuh keyakinan bahwa masa depan desa dapat dibangun dari kekuatan yang telah lama hidup di tengah masyarakatnya sendiri.(***)
