Program JAGATARA Satukan Kampus, Pemerintah dan Masyarakat Kembangkan Potensi Desa

Redaksi | News
oleh

Lumajang.kliksurabaya.co.id – Mewujudkan pertanian berkelanjutan tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Dibutuhkan kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat agar inovasi yang dikembangkan mampu menjawab kebutuhan di lapangan.

Semangat itulah yang terlihat dalam pelaksanaan pelatihan akuaponik dan pembuatan pupuk organik cair di Desa Rowokangkung, Kecamatan Rowokangkung, Kabupaten Lumajang, Selasa (4/8/2026).

Kegiatan yang digelar di Rumah Kepala Desa Rowokangkung tersebut merupakan bagian dari Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer Universitas Jember (FASILKOM UNEJ) melalui Program JAGATARA (Desa Agraris Berlapis Rowokangkung). Pelatihan diikuti kepala desa, kelompok tani, dan masyarakat dengan menghadirkan narasumber dari Dinas Perikanan Kabupaten Lumajang.

Dalam kegiatan tersebut, peserta memperoleh materi mengenai sistem budidaya akuaponik sekaligus praktik pembuatan pupuk organik cair. Pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas masyarakat dalam mengelola potensi pertanian dan perikanan secara lebih efisien dan ramah lingkungan.

Ketua Pelaksana PPK Ormawa BEM FASILKOM UNEJ, Dimas Kurniawan, mengatakan keberhasilan program pemberdayaan masyarakat sangat bergantung pada sinergi berbagai pihak, mulai dari perguruan tinggi, pemerintah desa, instansi teknis, hingga masyarakat sebagai pelaku utama.

“Kami ingin masyarakat tidak hanya menerima pengetahuan, tetapi juga mampu menerapkannya secara mandiri. Karena itu, Program JAGATARA dibangun melalui kolaborasi dengan pemerintah desa dan Dinas Perikanan agar pendampingan yang diberikan benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” ujarnya.

Kolaborasi tersebut mendapat dukungan dari Dinas Perikanan Kabupaten Lumajang. Penyuluh Perikanan, Martika Hendriyani, menjelaskan bahwa instansinya siap memberikan pendampingan teknis kepada masyarakat yang ingin mengembangkan sistem akuaponik maupun pembuatan pupuk organik cair.

“Kami siap memberikan pendampingan teknis kepada kelompok masyarakat yang ingin mengembangkan akuaponik maupun pembuatan pupuk organik cair. Harapannya, inovasi yang diperkenalkan dapat terus berkembang dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” jelasnya.

Sinergi yang terbangun dalam kegiatan ini menunjukkan bahwa pengembangan desa tidak hanya bergantung pada ketersediaan sumber daya, tetapi juga pada kemauan untuk berbagi pengetahuan dan bekerja bersama. Kampus menghadirkan inovasi, pemerintah memberikan pendampingan, sementara masyarakat menjadi pelaku utama yang akan mengembangkan dan menjaga keberlanjutan program.

Melalui Program JAGATARA, Desa Rowokangkung menjadi ruang kolaborasi yang mempertemukan dunia akademik, pemerintah, dan masyarakat dalam satu tujuan, yakni membangun pertanian yang lebih produktif, efisien, dan ramah lingkungan.

Pendekatan ini diharapkan mampu memperkuat ketahanan pangan sekaligus menjadi contoh pengembangan desa berbasis kemitraan yang berkelanjutan.(***)