Warisan Rempah Nusantara Tumbuh di Senduro, Kapulaga Lumajang Tetap Diminati Dunia

Redaksi | News
oleh

lumajang.kliksurabaya.co.id – Ketika bangsa-bangsa Eropa berlayar ribuan kilometer menuju Nusantara berabad-abad silam, mereka sesungguhnya sedang mengejar satu hal: rempah-rempah. Kekayaan pala, cengkih, lada, hingga kapulaga menjadikan kepulauan Indonesia sebagai pusat perdagangan dunia dan mengubah jalannya sejarah.

Jejak kejayaan itu ternyata belum benar-benar hilang.

Di lereng Gunung Semeru, tepatnya di Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, kapulaga masih tumbuh subur di bawah rindangnya pepohonan. Dari kebun-kebun milik petani di Desa Senduro dan Desa Kandangtepus, komoditas rempah itu terus dipanen dan dipasarkan hingga menembus pasar internasional, menjadi bukti bahwa warisan rempah Nusantara tetap hidup melalui tangan-tangan petani desa.

Potensi tersebut bukan sekadar cerita. Data Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Lumajang menunjukkan, Kecamatan Senduro menjadi sentra produksi kapulaga terbesar di Kabupaten Lumajang. Pada 2024, produksi kapulaga di kecamatan ini mencapai sekitar 2.034.373 kilogram dari luas panen sekitar 149,65 hektare, atau menyumbang sekitar 73 persen dari total produksi kapulaga Kabupaten Lumajang yang mencapai 2.795.021 kilogram. Angka tersebut menegaskan posisi Senduro sebagai jantung produksi kapulaga di Lumajang sekaligus salah satu kawasan rempah yang memiliki peran penting dalam rantai pasok nasional.

Warisan Rempah yang Tetap Bernilai

Kapulaga bukan sekadar bumbu dapur. Tanaman dari keluarga Zingiberaceae ini banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku industri makanan, minuman, farmasi, hingga kosmetik. Beragamnya pemanfaatan tersebut membuat permintaan kapulaga dunia terus meningkat.

Kementerian Pertanian mencatat, produksi kapulaga Indonesia pada 2021 mencapai 124.766 ton, dengan 10.462 ton di antaranya diekspor dan menghasilkan devisa sekitar US$76,79 juta atau setara sekitar Rp1,38 triliun (mengacu kurs sekitar Rp18.025 per dolar AS). Besarnya nilai ekspor tersebut menunjukkan kapulaga masih menjadi salah satu komoditas rempah strategis Indonesia di pasar global.

Posisi Indonesia sebagai salah satu produsen utama kapulaga dunia juga terus menguat. Data perdagangan internasional menunjukkan nilai ekspor kapulaga Indonesia pada 2024 mencapai sekitar US$51,6 juta atau setara sekitar Rp930 miliar (mengacu kurs sekitar Rp18.025 per dolar AS), dengan China menjadi pasar tujuan terbesar, disusul Jerman, Thailand, Singapura, dan sejumlah negara lainnya.

Di tingkat daerah, Lumajang menjadi salah satu sentra penghasil kapulaga di Jawa Timur. Pemerintah Kabupaten Lumajang mencatat tanaman kapulaga berkembang pesat di kawasan berhawa sejuk seperti Senduro, Pasrujambe, dan Gucialit. Bahkan, potensi lahan budidaya kapulaga di Kecamatan Senduro mencapai sekitar 2.701 hektare, menjadikannya wilayah dengan pengembangan kapulaga terbesar di Kabupaten Lumajang.

Merawat Harapan dari Lereng Semeru

Bagi Satimin, petani asal Desa Senduro, kebun kapulaga bukan hanya tempat mencari nafkah. Di sanalah ia belajar tentang kesabaran, ketekunan, dan keyakinan bahwa hasil terbaik lahir dari proses yang panjang.

Sejak mulai membudidayakan kapulaga pada 2010, ia memilih bertahan meski harga komoditas perkebunan kerap mengalami fluktuasi. Baginya, bertani bukan sekadar mengejar keuntungan sesaat, melainkan membangun keberlanjutan usaha.

“Kapulaga Senduro banyak diminati pasar internasional. Itu yang membuat kami tetap semangat menanam,” ujarnya.

Menurut Satimin, hasil panen petani umumnya dibeli pengepul sebelum dipasarkan ke berbagai negara. Permintaan yang terus datang menjadi dorongan bagi petani untuk menjaga kualitas hasil panen.

Ia pun berpesan agar petani tidak mudah tergoda mengganti tanaman hanya karena harga sedang turun.

“Yang penting telaten dan banyak bersyukur. Jangan sering membongkar tanaman hanya karena harga. Kalau usaha dijalani dengan sabar, hasilnya akan datang,” tuturnya.

Komoditas yang Menjaga Optimisme Petani

Optimisme serupa dirasakan Toyo, petani kapulaga asal Desa Kandangtepus. Selama bertahun-tahun membudidayakan tanaman rempah tersebut, ia mengaku kapulaga masih menjadi salah satu komoditas yang menjanjikan.

Dengan perawatan yang relatif sederhana, tanaman kapulaga mampu dipanen hingga dua kali dalam setahun sehingga tetap memberikan harapan bagi perekonomian keluarga.

“Perawatannya mudah, panennya bisa dua kali setahun. Selama dirawat dengan baik, saya tidak pernah merasa rugi menanam kapulaga,” katanya.

Kondisi geografis lereng Semeru yang berhawa sejuk, didukung tanah vulkanik yang subur, menjadi faktor yang mendukung budidaya berbagai tanaman rempah. Pengalaman petani yang diwariskan lintas generasi juga ikut menjaga kualitas kapulaga yang dihasilkan.

Dari Senduro untuk Pasar Dunia

Meningkatnya permintaan global terhadap rempah membuka peluang yang semakin besar bagi petani kapulaga. Kapulaga Indonesia tidak hanya digunakan sebagai bumbu masakan, tetapi juga menjadi bahan baku industri pangan, farmasi, kosmetik, hingga produk kesehatan. Diversifikasi pemanfaatan tersebut membuat permintaan pasar internasional terhadap komoditas ini terus berkembang.

Peluang tersebut bukan sekadar potensi. Pemerintah Kabupaten Lumajang mencatat, ekspor kapulaga dari Lumajang berlangsung secara rutin dengan volume sekitar 17–20 ton setiap dua minggu melalui Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Komoditas rempah ini dipasarkan ke berbagai negara, di antaranya China, Singapura, Belanda, hingga sejumlah negara di kawasan Timur Tengah. Capaian tersebut menunjukkan bahwa kapulaga dari lereng Semeru telah menjadi bagian dari rantai perdagangan rempah dunia.

Di Senduro, peluang tersebut diterjemahkan dalam kerja keras para petani yang tetap setia merawat kebunnya. Bagi mereka, kapulaga bukan sekadar komoditas ekspor, tetapi bagian dari identitas daerah yang menyatukan sejarah, alam, dan penghidupan masyarakat.

Ketika dunia pernah mengenal Nusantara sebagai negeri rempah, para petani di lereng Semeru membuktikan bahwa kisah itu belum berakhir. Dari kebun-kebun yang teduh di Senduro, aroma kapulaga terus mengalir melintasi batas negara, membawa warisan rempah Indonesia tetap harum di pasar dunia. Bukan hanya sebagai komoditas perdagangan, tetapi juga sebagai bukti bahwa kejayaan rempah Nusantara masih terus tumbuh dari desa-desa di kaki Gunung Semeru.

No More Posts Available.

No more pages to load.